Contoh Karya Tulis Gunung Bromo Lengkap Terbaru

Contoh Karya Tulis Gunung Bromo Lengkap Terbaru - Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama dalam agama Hindu) atau dalam bahasa Tengger dieja "Brama", adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur. Sebagai sebuah objek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Karya Tulis Gunung Bromo Lengkap Terbaru





Diatas adalah penjelasan singkat mengenai Bromo. Langsung saja bagi agan yang ingin lihat karya tulis gunung bromo ,silahkan membaca

Artikel ini adalah artikel yang dilarang dicopas

KEINDAHAN GUNUNG BROMO



Karya Tulis
Disusun dan Diajukan Guna Memenuhi Tugas Bahasa Indonesia Semester Dua

Disusun Oleh
    Nama       : Aryohaji Istyawan
    NIS          : 0010955939
    Kelas      :  XI IPS 3

     2017/2018

PERSETUJUAN
Karya tulis wisata ini telah disetujui sebagai nilai tugas Bahasa Indonesia semester dua  SMA N  3 Sukoharjo  Tahun Pelajaran  2017/2018, pada :




.Hari                 : Selasa
Tanggal            : 29 Maret 2018







Wali kelas XI IPS 3                                        Guru Pembimbing



Dra. Wiwin Kristina                                        Asni Sri Hidayati, S.pd
NIP. 19600924 199303 2 002                                    NIP. 19700419  201001 2003









MOTTO

1.      Perhatikan alam maka alam akan memperhatikanmu itulah yang disebut dengan hukum karma alam.
2.      Negri pertiwi adalah negeri dengan memiliki pemandangan yang mempesona, sayang jika kita hanya mengabaikannya.
3.      Melangkah sejauh mungkin untuk mencari sebuah kebenaran dan pengetahuan.
4.      Merasa bersatu walau beda agama dan suku.
5.      Alam bisa menambah pengetahuan dari perasaan dan melihat dari sudut yang luas dari indahnya pemandangan dunia.
6.      Jaga alam maka hidup kita akan tentram.















                                                                                                                                                    
PERSEMBAHAN
              Selain untuk menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia semester dua, Karya tulis ini juga dipersembahkan kepada :
1.      Kedua Orang Tua yang saya sayangi.
2.      Bapak dan Ibu guru SMA Negeri 3 Sukoharjo.
3.      Siswa-siswi SMA Negeri 3 Sukoharjo.
4.      Pihak-pihak yang telah membantu dalam penulisan karya tulis ini.
5.      Para pembaca yang sudah meluangkan waktunya.




















KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat dan rahmat-Nya yang senantiasa menyertai sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis kunjungan wisata ke Gunung Bromo tiada hambatan apapun.

karya tulis wisata disusun sebagai nilai tugas Bahasa Indonesia semester dua SMA Negeri 3 Sukoharjo. Karya tulis ini disusun berdasarkan informasi narasumber, pengamatan langsung ke objek wisata dan di sempurnakan pula dengan berbagai sumber yang valid.

Dalam penulisannya karya tulis ini juga dibantu oleh berbagai pihak sehingga karya tulis ini berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih pada semua pihak yang sudah mau membantu dalam penulisan karya tulis ini.

Dalam penulisan karya tulis ini masih banyak sekali kekurangan maupun kesalahan yang ada. Maka dari itu kritik dan saran sangat membantu agar karya tulis ini menjadi lebih baik lagi. Semoga karya tulis ini bermanfaat.



                                                                       Sukoharjo, 21 Maret 2018


                                                                                 Penulis

DAFTAR ISI


HALAMAN   JUDUL................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN..................................................................ii
PERSEMBAHAN.....................................................................................iii
MOTTO.....................................................................................................iv
KATA PENGANTAR...............................................................................v
DAFTAR ISI.............................................................................................vi
BAB   1  Pendahuluan................................................................................1
           A.   Latar Belakang Pemilihan  Judul.............  ..............................1
           B.   Tujuan Penulisan......................................................................2
           C     Manfaat Penulisan.................................... ..............................2
           D     Metode Pengumpulan Data.....................................................3
           E     Sistematika Penulisan..............................................................4
BAB   II  Landasan Teori
           A.     Deskripsi Gunung Bromo Secara Umum..............................7
           B.     Waktu dan Tempat Pelaksanaan............................................8
           C.     Peserta Kegiatan....................................................................8
           D.     Jadwal Kegiatan.....................................................................8
           E.     Sarana Transportasi................................................................9

BAB  III   Deskripsi Objek
           A.     Desa Wisata Wonokitri........................................................11
           B.     Pemandangan Dari Penanjakan Bukit Cinta.........................13
           C.     Pura Luhur Poten................................................................. 16
           D.     Kawah Gunung Bromo........................................................18
           E.     Pasir Berbisik.......................................................................20
           F.     Bukit Teletubbies.................................................................22
BAB   IV  PENUTUP
           A.     Kesimpulan..........................................................................26
           B.     Saran....................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................28
LAMPIRAN............................................................................................29


 BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Pemilihan Judul

Indonesia adalah sebuah negara yang terdiri dari berbagai wilayah provinsi yang membentang dari Aceh sampai  Papua. Salah satu provinsi tersebut adalah Provinsi Jawa Timur. Jawa Timur adalah provinsi di bagian timur Pulau Jawa, Indonesia. Ibukotanya terletak di Surabaya, dengan letak geografis 111,0′ BT hingga 114,4′ BT dan Garis Lintang 7,12” LS dan 8,48 ‘LS. Luas wilayahnya kurang lebih 47.922 KM2 . Jawa Timur memiliki wilayah terluas di antara 6 provinsi di Pulau Jawa, dan memiliki jumlah penduduk terbesar kedua setelah Jawa Barat.

Jawa Timur berbatasan dengan Jawa Tengah di bagian barat, Selat Bali di timur, Laut Jawa di utara, dan Samudra Hindia di selatan. Jawa Timur memiliki beberapa kota ternama, di antaranya Malang, Surabaya, dan Gresik. Jawa Timur memiliki potensi yang tak kalah dengan wilayah provinsi lainnya, bahkan wilayah asing. Salah satu objek wisata unggulannya adalah Kawasan Wisata Bromo yang terletak di Kabupaten Pasuruan Probolinggo.

            Dalam kawasan Bromo terdapat berbagai wisata lagi  desa budaya Wonokitri, Penanjakan Bukit Cinta, Pure Luhur Poten, Kawah Gunung Bromo, Pasir Berbisik, Bukit teletubies. Wisata di Gunung Bromo  menyenangkan dan sudah dikenal oleh banyak negara. Sebagai salah satu destinasi yang memiliki wilayah unggul, bromo banyak sekali dikunjungi oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara
Hal itu mendorong penulis untuk memilih wisata Gunung Bromo. adalah karena ketertarikan penulis dengan keindahan Gunung Bromo. Dan dari ketertarikan tersebut penulis memilih wisata gunung bromo sebagai bahan dalam penulisan karya tulis ini.
B.   Tujuan Penulisan

Karya tulis perjalanan wisata ke Bromo ini penulis susun dengan beberapa tujuan. Pertama, penulis ingin mempromosikan Bromo sebagai kawasan wisata yang bertaraf internasional. Penulis meyakini bahwa dengan banyaknya kunjungan wisata ke Bromo, perputaran ekonomi masyarakat di kawasan Bromo akan meningkat. Kedua, penulis berharap pembaca karya tulis ini memiliki ketertarikan untuk mengunjungi Bromo. Ketiga, bagi pembaca yang sudah berkeinginan untuk mengunjungi Bromo, penulis berharap karya tulis ini dapat menjadi informasi atau panduan yang bermanfaat.
        Seiring dengan target pemerintah untuk menerima 17 juta wisatawan pada tahun 2018 penulis berharap tulisan singkat ini memberikan sumbangan.

C.   Manfaat Penulisan

            Dalam penulisan karya tulis kunjungan wisata ke Gunung Bromo bisa memberikan berbagai manfaat yang ada untuk penulis dan pembaca agar dapat menambah pengetahuan tentang wisata Gunung Bromo yang terletak di wilayah Jawa Timur, Indonesia. Manfaat tersebut antara lain sebagai berikut :

1.      Menambah rasa syukur terhadapat tuhan atas karunia alam yang indah.
2.      Menyadari bahwa pariwisata dalam negri tidak kalah dengan wilayah luar negri.
3.      Sadar untuk menjaga dan melestarikan objek wisata.
4.      Membuat negara menjadi lebih baik dengan ikut serta membantu perekenomian negara khususnya dalam bidang kepariwisataan.
5.      Mengasah kemampuan menulis dan menyusun karya tulis kunjungan.
6.      Menambah pengetahuan terhadap penulis dan pembaca tentang wisata bromo
7.      Menambah motivasi agar dapat mengoptimalkan kawasan wisata yang ada di daerahnya.
       


D.      Metode Pengumpulan Data

   Data – data yang ada dalam  karya tulis ini didapat dari berbagai sumber yang valid serta melalui beberapa metode sehingga penulis dapat menulis karya tulis dengan data yang sebenarnya tanpa menimbulkan tafsir yang lain. Sumber tersebut didapatkan melalui metode sebagai berikut berikut :

a.      Metode Dengan Wawancara Narasumber
            Narasumber adalah salah satu sumber data yang ada dalam karya tulis ini karna narasumber memiliki pengetahuan yang kuat tentang objek wisata yang ada di Gunung Bromo. Data yang diambil dari narasumber berkaitan dengan kehidupan masyarakat gunung bromo. Masyarakat Gunung Bromo kebanyakan adalah Suku Tengger dan bermata pencaharian berkebun.
b.         Metode Observasi
Setelah penulis mendapatkan informasi penting dan pertama dari narasumber, penulis melakukan pengamatan langsung terhadapa kehidupan masyarakat bromo dan objek wisata yang ada di kawasan wisata tersebut sehingga dapat dipastikan informasi yang ada dalam karya tulis terbukti kebenarannya
c.      Metode Studi Pustaka Internet
                 Selain narasumber dan pengamatan langsung dari penulis, penulis juga mencari dan mendapatkan informasi dari situs situs yang ada di internet, baik situs tersebut resmi dari lembaga kepariwisataan maupun tidak resmi. tetapi keduanya juga memiliki data yang kuat dan memliki informasi yang terbukti kebenarannya.




E.       SITEMATIKA  PENULISAN
                           Agar pembaca dapat lebih mudah memahami struktur karya tulis ini, maka penulis menggunakan sistematika penulisan karya tulis ini sebagai berikut :

HALAMAN  JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN
PERSEMBAHAN
MOTTO
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB   1  Pendahuluan
           A.   Latar Belakang Pemilihan judul
           B.   Tujuan Penulisan
           C     Manfaat Penulisan.
           D     Metode Pengumpulan Data
           E     Sistematika Penulisan
BAB   II  Landasan Teori
           A.     Deskripsi Gunung Bromo Secara Umum
           B.     Waktu dan Tempat Pelaksanaan
           C.     Peserta Kegiatan
           D.    Jadwal Kegiatan
           D.     Sarana Transportasi

BAB  III   Deskripsi Objek
           A.     Desa Wisata Wonokitri
           B.     Pemandangan Dari Penanjakan Bukit Cinta
           C.     Pura Luhur Poten
           D.     Kawah Gunung Bromo
           E.     Pasir Berbisik.
           F.     Bukit Teletubbies
BAB   IV  PENUTUP
           A.     Kesimpulan
           B.     Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN













BAB II
LANDASAN TEORI
A.       Deskripsi Gunung Bromo Secara Umum
               Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama dalam agama Hindu) atau dalam bahasa Tengger dieja "Brama", adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur. Sebagai sebuah objek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
               Statusnya yang masih aktif membuat Gunung Bromo jadi lebih menarik di mata wisatawan. Ketinggian Gunung Bromo 2.392 meter diatas permukaan laut dan memiliki bentuk tubuh bertautan diantara lembah dan ngarai dengan di kelilingi kaldera atau lautan pasir luas kurang lebih sekitar 5.300 hektar.
                Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.
               Gunung Bromo (2.329 dpl) , adalah salah satu gunung dari beberapa gunung lainnya yang terhampar di kawasan kompleks pegunungan Tengger, berdiri di areal kaldera berdiameter 8-10 yang dinding kalderanya mengelilingi laut pasir sangat terjal dengan kemiringan ± 60-80 derajat dan tinggi berkisar antara 200-600 meter. Salah satu daya tarik Gunung Bromo yang istimewa adalah kawah ditengah  kawah dengan lautan pasirnya yang membentang luas di sekeliling kawah Bromo yang sampai saat ini masih terlihat mengepulkan asap putih setiap saat, menandakan gunung ini masih aktif.
B.        Waktu Dan Tempat Kegiatan
                           Karya wisata ini dilaksanakan  pada tanggal 3 – 4 Maret 2018. Penulis berada pada wilyah  bromo selama 2 hari dan waktu untuk mengamati objek wisata selama 2 hari.
C.        Peserta
                         Mengingat bahwa karya wisata ini dilakukan secara pribadi maka peserta yang mengikuti karya wisata ini adalah penulis bersama dengan keluarganya. Jumlah peserta yang teribat dalam karya wisata ini berjumlah 7 orang.
D.        Jadwal Kegiatan

No
Hari,Tanggal
Waktu
Kegiatan
1
Sabtu, 3 Maret 2018
05.30 WIB
Persiapan akhir untuk menyediakan perlengkapan yang kurang serta sarapan pagi


07.00 WIB
Berangkat dari rumah


12.45 WIB
ISHOMA, di SPBU Mojokerta


14.30 WIB
Melanjutkan perjalanan


17.30 WIB
Sampai di Desa Wonokitri lalu ke Home Stay untuk ISHOMA
2
Minggu, 4 Maret 2018
02.30 WIB
Berangkat dan tiba di penanjakan pemandangan Gunung Bromo di Bukit Cinta


06.30 WIB
Sampai di kawah Gunung Bromo


09.00 WIB
Berpindah ke kawasan pasir berbisik


09.45 WIB
Berlanjut dan sampai di Bukit Teletubbies


10.00 WIB
Sampai di Home Stay dan bersiap untuk pulang


11.00 WIB
Berangkat pulang menuju rumah


16.00 WIB
ISHOMA di SPBU Kediri


24.00 WIB
Sampai di rumah

E.        Sarana Transportasi
                      Penulis dalam melakukan studi wisata ini bersama peseta lainnya menggunakan transportasi darat yaitu menggunakan mobil. Penulis beralasan bahwa menggunakan mobil pribadi lebih terasa mudah dan menyenangkan. Namun, saat tiba di kawasan wisata penulis dan keluarganya menggunakan mobil jeep dikarenakan sulitnya medan serta untuk menambah keamanan dan kenyamanan dalam melakukan studi wisata ini.


BAB III
DESKRIPSI OBJEK YANG DIKUNJUNGI

Kawasan Bromo menyimpan banyak obyek wisata yang menarik. Sungguh, pengalaman yang menyenangkan karena penulis berkesempatan mengunjungi kawasan tersebut. Bersama keluarga, mengunjungi Bromo bertambah lebih menyenangkan. Bagi penulis, berwisata tidaklah melulu berkaitan dengan tempat yang dikunjungi. Perjalanan juga merupakan hal yang harus dinikmati.
Untuk menuju Bromo, penulis mengambil jalur Purwodadi, Nongkojajar, Tosari, Wonokitri. Untuk mencapai jalur tersebut, penulis menempuh perjalanan melalui jalan raya Surabaya-Malang. Setelah melalui Kebun Raya Purwodadi, penulis mengambil jalur ke kiri melewati jalan raya Nongkojajar. Jalan yang penulis lalui sudah cukup mulus dan lebar. Kendaraan besar masih banyak yang melintas di jalur ini. Selepas Pasar Nongkojajar, jalanan berubah sempit. Jalan mulai berliku-liku dan hanya bisa dilalui kendaraan kecil. Di Desa Sugro hamparan kebun apel mulai terlihat. Penulis sempat berhenti sejenak untuk mengambil foto-foto yang sangat berkesan.
Setibanya di Desa Tosari, jalanan mulai menanjak. Beberapa di antaranya berpadu dengan tikungan tajam. Papan peringatan supaya hati-hati banyak dipasang di pinggir jalan. Oleh sebab itu, penulis mengingatkan agar pembaca yang hendak berkunjung dengan menggunakan mobil agar memeriksa kondisi mesin dengan baik. Hal ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan selama dalam perjalanan.
Tujuan akhir penulis ialah Desa Wonokitri. Desa itu merupakan desa terakhir sebelum wisatawan masuk ke kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), yaitu lembaga pemerintah yang mengelola kawasan wisata Bromo. Dalam perjalanan, jajaran rumah di Desa Wonokitri terlihat indah. Warga membangun rumahnya di punggungan bukit. Rumah-rumah itu terbuat dari semen dan sebagian besar bertingkat. Hal menunjukkan taraf kesejahteraan warga yang cukup tinggi.
Menjelang sore hari, penulis tiba di Homestay Bromo Tengger Saputra yang telah disewa untuk bermalam bersama keluarga. Homestay itu dikelola oleh warga Wonokitri yang bernama Bapak Putra. Sebagian besar warga desa tersebut memang memiliki mata pencaharian di bidang wisata, di antaranya dengan menyewakan homestay, menyewakan jeep, serta membangun rumah makan.
Dalam perjalanan wisata ini, penulis mengunjungi beberapa lokasi yang menarik, yaitu Desa Wisata Wonokitri, Puncak Penanjakan Bukit Cinta, Pura Luhur Poten, Kawah Bromo, Pasir Berbisik, dan Bukit Teletubbies.
A.      Desa Wisata Wonokitri
Sesaat setelah tiba di homestay, Bapak Putra menyambut penulis dan keluarga. Homestay yang kami sewa merupakan rumah berlantai tiga. Kebetulan penulis mendapatkan ruangan di lantai 1. Ruangan yang kami sewa terdiri dari 3 kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, dapur, dan kamar mandi. Penulis beristirahat sebentar dengan duduk di sofa bersama adik-adik. Di luar homestay, beberapa warga menawarkan syal, topi, dan sarung tangan. Maklum, udara di Bromo memang dingin. Penulis membeli sepasang topi dan syal. Ini sebagai persiapan untuk menyaksikan matahari terbit besok pagi.
Setelah cukup beristirahat, penulis berjalan-jalan menikmati suasana Desa Wonokitri. Lokasi pertama yang penulis tuju ialah Pos Informasi. Pos ini berupa bangunan serupa loket yang berukuran kurang lebih 4x4 meter persegi. Bangunannya bercat biru. Di bagian atas pintu masuk terdapat layar LED yang menyampaikan informasi harga tiket masuk kawasan TNBTS, yaitu sebesar 32.500 per orang, serta harga sewa jeep per unit sebesar Rp.600.000. Jeep ini dapat memuat maksimal 6 orang. Oleh sebab itu, pembaca yang hendak berwisata ke Bromo dapat memanfaatkan pos ini untuk menemukan jeep sewaan juga membeli tiket masuk.
Setelah mengunjungi post informasi, penulis mengunjungi Pendopo Agung Panca Manggala Gatra Nagara. Pendopo ini merupakan bangunan berbentuk joglo. Atapnya terdiri dari 3 tingkat yang menjulang dengan genting berwarna coklat. Pada sisi luar atap terdapat hiasan bendera merah putih.
 Berdasarkan informasi yang penulis baca pada sebuah prasasti di depan gapura, Pendopo Agung dibangun pada awal tahun 1985 dengan biaya sebesar Rp. 57.000.000. Pendopo ini digunakan untuk pertemuan, santiaji atau keagamaan, peringatan ritual adat masyarakat Suku Tengger, pementasan kebudayaan khas masyarkat Suku Tengger serta kepariwisataan. Pendopo ini diresmikan oleh Bupati Pasuruan Bapak Djliteng Soejoto pada tanggal 28 Desember 1985. Di depan pendopo ini terdapat halaman yang luas. Hampir 50 mobil dapat ditampung di halaman ini. Para pengunjung yang datang juga banyak menggunakan halaman ini sebagai lokasi parkir kendaraannya.
Setelah puas menikmati suasana di Pendopo Agung, penulis berjalan menuju pura Desa Wonokitri. Bangunan pura terletak di puncak bukit. dua tiang gapura terlihat menjulang. Untuk mencapai gapura itu pengunjung harus menapaki puluhan anak tangga. Pada anak tangga terbawah terdapat pintu masuk yang terbuat dari batu  berwarna hitam. Pada bagian atas pintu terhadap hiasan kepala raksasa. Di samping pintu terdapat patung raksasa kecil yang bersarungkan kain yang bermotif kotak hitam putih. Karena merupakan tempat suci, penulis hanya bisa menikmati suasana pura ini dari luar.
Tidak jauh dari lokasi pura terdapat kantor kepala Desa Wonokitri. Kantor ini merupakan bangunan berlantai dua. Papan nama desa terpampang di lantai dua bangunan itu. Pada waktu penulis berkunjung, lokasi ini sangat ramai. Rupanya ada warga yang menggelar hajatan. Musik khas Tengger mengalun di penjuru desa. Penulis menyempatkan diri untuk mengambil foto. Karena banyaknya warga yang berlalu lalang, penulis tidak bisa berlama-lama di tempat ini.
Pada akhir kunjungan di Bromo, penulis menjumpai keunikan lain masyarakat Tengger, yaitu ritual adat Entas. Upacara Entas dilangsungkan oleh orang tua yang anaknya telah berhasil dalam hidupnya, yaitu sudah menikah, berketurunan, serta hidup mandiri. Rombongan warga dengan berpakaian adat serta musik tetabuhan berjalan mengelilingi kampung menuju Pendopo Agung. Penulis sangat menikmati alunan musik yang khas Tengger serta suasana upacara tersebut.
B.      Pemandangan Dari Penanjakan Bukit Cinta
Menjelang dini hari, sekitar pukul setengah tiga pagi, penulis sudah bangun bersama anggota keluarga yang lain. Kami bersiap untuk menyaksikan matahari terbit atau sunrise. Setelah bersiap kami berangkat menuju lokasi wisata Bukit Cinta. Jalan terlihat berliku liku dan banyak burung malam yang sedang menyiulkan suaranya. Tengah peralanan, kami pun berbincang bincang pada Pak Dharma atau sopir jeep yang mengantar kami berbagai lokasi di kawasan wisata. Pak Dharma menjelaskan banyak hal pada kami mengenai masyarakat yang ada di Bromo yaitu Suku Tengger.
Ternyata Suku Tengger memiliki pandangan hidup yang religius serta mengutamakan kepentingan tuhan. Pada setiap waktu tertentu masyarakat Suku Tengger melaksanakan peribadatan dan upacara pengorbanan hewan atau tumbuhan atas rasa syukur dan meminta perlindungan agar dijauhkan dari masalah dan musibah yang menimpa mereka.
Kata Pak Dharma apabila Kawah Gunung Bromo memuntahkan materialnya, hal itu dianggap oleh Suku Tengger sebagai berkah karena dengan material tersebut membuat perkebunan menjadi lebih subur dan melimpah. Selama pembicaraan kami mendapatkan berbagai pengetahuan bahwa ternyata perbedaan agama tidak tidak membuat perbedaan pula pada tujuannya yaitu untuk selalu bersyukur atas segala kenikmatan yang sudah diberikan.
Setengah jam lamanya kami mengobrol saat perjalanan, Banyak sekali toko makanan dan pakaian berjajar di pinggir jurang. Uniknya setiap toko hampir memiliki api untuk menghangatkan tubuh karna dinginnya lokasi wisata. Terlihat di depan bukit tertulis nama papan Bukit Cinta yang menandakan bahwa kami sudah sampai di lokasi wisata. Kami pun akhirnnya turun dari mobil jeep dan meneruskan ke puncak Bukit Cinta.
Ada banyak sekali anak tangga kami lewati. Terlihatlah panorama alam yang begitu luar biasa di alam Bromo. Gunung bromo terletak di sebelah kiri yang dimana kawahnya mengepul menandakan atifnya sebagai gunung berapi di indonesia sekaligus gunung terindah yang pernah kami temui.
Di Bukit Cinta, penulis melihat banyaknya turis yang tak terhitung karna padatnya lokasi untuk melihat matahari terbit atau sunrise. Selain turis domestik terdapat pula berbagai turis yang berasal dari luar negri atau manca negara. Wajah wajah putih pun juga bersemangat untuk melihat pemandangan yang begitu mempesona.
Waktu menunjukan pukul 4 pagi, kami memutuskan untuk melaksanakan peribadatan dulu sebelum melihat matahari terbit. Terlihat kumpulan orang yang mengantri menandakan tujuan yang sama dengan kami. Setelah berwudhu penulis masih menunggu anggota keluarga lain untuk melaksanakan kewajiban.
Pemandangan yang memprihatinkan terdapat pada area peribadatan karna luasnya yang massih sempit dan tembok yang kurang tinggi sehingga menganggu kekhusyukan para jemaah salat yang ada. Beberapa menit berlalu, akhirnya semua anggota keluarga berkumpul dan kami pun melaksanakan salat bersama sama. Setelah salat dan berdoa kami mendatangi kembali puncak bukit untuk bersiap melihat pemandangan matahari tebit.
Setelah kejenuhan kami dan lamanya menunggu matahari pun mulai menampakkan wajahnya dihadapan wisatawan. Banyak sekali jepretan foto yang kami abadikan di sana. Kami merasa sangat senang karna bisa melihat pemandangan Sunrise pertama kali di kawasan wisata terkenal. Namun, karna banyaknya kabut memang tak seindah gambar gambar paket wisata yang ada di situs situs perjalanan Bromo. Tetapi hal itu tidak menyurutkan kami untuk tetap bersyukur atas keadaan ada.
 Untuk tempat pertama wisata di kawasan Gunung Bromo, penulis memilih tempat di Bukit sangat cocok untuk memulai perjalanan wisata lain, Bukit Cinta merupakan destinasi pertama yang akan dilalui banyak oleh wisatawan.
          Penulis  memiilih sebagai tempat yang paling strategis untuk menikmati Golden Sunrise yang menakjubkan selain Puncak Penanjakan. Bahkan orang asing pun pernah mendengarnya dan memutuskan untuk mengunjunginya saat liburan. Bukit Cinta terletak di dekat Puncak Panajakan (yang juga merupakan tempat terbaik untuk berburu matahari terbit). Jaraknya sekitar 5 km dan memiliki pandangan yang mirip dengan Penajakan.
         Bukit Cinta juga memiliki mitos menarik yang bisa didatangi turis. Dikatakan ada pasangan bernama Roro Anteng dan Joko Seger.Sebagaimana rumor yang beredar, mereka adalah orang dahulu suku Tengger. Karena hubungan yang begitu indah, bukit menjadi representasi cinta mereka. Rumor lain menyatakan bahwa setiap pasangan yang menghabiskan waktu di bukit akan mendapatkan hubungan kekal. Atas dasar itu pula maka bukit tersebut dinamakan dengan bukit cinta karna memang suasana pemandangan yang ada di alam bromo benar benar menabjukan bagi para pengunjungnya.
                  Penulis pun juga merasakan hal yang sama mengenai keindahan yang ada di spot wisata ini. Walaupun memang lebih baik untuk melihat matahari terbenam, tetapi suasana dan keindahan juga tidak memiliki perbedaam yang begitu menonjol karna keduanya juga sama sama indah untuk dipandang. Setelah lama kami menikmati pemandangan yang indah, kami pun kembali ke mobill jeep untuk berpindah ke lokasi wisata selanjutnya.

C.       Pura Luhur Poten
                       Saat kami tengah malnjutkan perjalanan dari Bukit Cinta, tempat yang kami tuju selanjutnya yaitu Pura Luhur Poten yang tempatnya sekaligus beredakatan dengan komplek Gunung Bromo. Di tengah perjalanan masih menyisihkan pemandangan  indah dicampur dengan suasana mencekam karna jalanan yang curam dan berliku liku. Tidak terlihar rasa khawatir bagi Pak Dharma yang sudah biasa menyusuri jalanan sendirian.
                         Setelah turun dari tngginya bukit kami berlandaskan di tempat yang begitu kering dan berkabut. Jarak 10 meter sudah tidak tertampak jelas karna betapa tebalnya kabut. Penulis dan anggota keluarga lain sangat menikmati suasana yang begitu tenang karna berada di wilayah yang begitu datar dan luas. Setelah mendapati arahan dari Pak Dharma, kami melangkahkan kaki menuju tempat yang sangat bersejarah. Sebelum sampai ditempat, kami menyempatkan beberapa foto yang sangat berharga ini karna tempat yang kami pijak di sana serasa berada di negri dongeng. Hamparan pasir hitam yang luas datanglah seorang penunggang kuda yang menawarkan kami untuk mempermudah kami ketujuan. Namun kami memilih untuk berjalan kaki karna selain murah kami ingin merasakan keindahan yang ada langsung dari kedua kaki sendiri.
                         Setelah berjalan selama 15 menit dinding dinding pura sudah mulai terlihat yang menandakan perjalanan akan segera berakhir. Lokasi Pura Poten Luhur memang tergolong tidak biasa karna lokasinya yang berada di tengah tengah kaldera pegunungan dan Gunung Bromo sebagai hadapan. Pura ini dianggap suci oleh masyarakat sekitar maka dari itu dilarang untuk dilewati dan membuang sampah sembarangan.
                      Pura Poten atau Pura Luhur Poten Gunung Bromo terletak di tengah lautan pasir Gunung Bromo menjadi salah satu tempat beribadah Suku Tengger untuk memuji  Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai manifestasi Dewa Brahma . Pura Tengger ini di bangun pada tahun 2000 dengan arsitektur campuran dari adat Bali dan Jawa yang bangunannya terbagi menjadi 3 zone atau 3 Mandala yaitu
– Mandala Utama yaitu tempat pelaksanaan pemujaan atau sembahyangan yang di dalamnya terdapat sebuah Padma (tempat pemujaan).
– Mandala Madya (tengah) sebagai tempat untuk persiapan dan pengiringan upacara persembahyangan
– Mandala Nista (depan) yaitu ruang terbuka yang mempunyau pintu tunggal sebagai tempat peralihan dari luar untuk masuk ke dalam pura.
                        Selain sebagai tempat sembahyang suku Tengger, Pura Luhur Poten merupakan lokasi perayaan suku adat Bromo yaitu Festival Yadya Kasada yang familiar disebut Upacara Kasodo . Upacara Kasada adalah upacara tahunan untuk memanjatkan puji syukur atas karunia yang diberikan kepada masyarakat Suku Tengger. Upacara ini diadakan setiap tahun pada bulan Kasada tepatnya pada malam bulan purnama. Tepat pada perayaan kasada pengunjung wisata Bromo sungguh sangat tinggi. kalau tour Bromo biasanya mulai jam 3 pagi, maka saat perayaan ini di mulai pada jam 12 malam untuk mengarak sesajen ke Pura Luhur Poten Gunung Bromo. Pengunjung yang tidak membawa kendaraan roda 2 wajib memakai  sewa jeep bromo karena kendaraan roda 4 akan dilarang turun kelautan pasir oleh petugas setempat.
                         Suasana didepan pura untuk hari hari biasa memang terbilang sepi karna  beberapa orang saja yang menggunakannya sebagai tempat peribadatan. Di sisi pure bagian lain banyak sekali pedagang pedagang yang berjualan. Pedagang tersebut berjualan seperti makanan, baju, syal, topi. Kuda juga banyak terparkir disana untuk mendapatkan penumpang. Sebelum kami bernjak pergi tidak lupa mensisihkan beberapa kenangan melalui jepretan foto.

D.       Kawah Gunung Bromo
            Setelah kami selesai menikmati keindahan Pura Luhur Poten kami masih melanjutkan perjalanan ke Gunung Bromo untuk melihat kawahnya. Perjalanan ini masih kami lakukan dengan berjalan bersama sama. Pemandangan unik kami temui dengan banyaknya kuda yang berlalu lalang mendapatkan penumpang serta rombongan pengunjung lain yang menyusul kami di hamparan datar yang begitu luas. Tampaklah keindahan Gunung Bromo yang kami tuggu tunggu setelah kabut ebal yang menutupi kami selama perjalanan.
              Perjalanan masih kami lannjutkan sampai ke penanjakan awal yaitu lewat bebatuan  \dan jalanan yang merupai sebuah anak sungai hasil kikisan erupsi oleh Gunung Bromo. Di sana kami tidak sendirian , ternyata disana masih ada banyak lagi wisatawan yang sudah ada di kawah Gung Bromo bahkan ada yang sudah kembali walapun jam masih menunjuk waktu pagi hari. Banyak sekali percakapan percakapan yang tidak dimengerti yang menandakan bahwa turis tersebut berasal dari luar negeri .
              Tidak ada rasa lelah bagi wisatawan kaerna terlihat wajah dan suara gembira mengingat rasa ingin tahu bagaimana pemandanan kawah Gunung Bromo secara langsung. Kaki kuat harus dibutuhkan untuk berjalan menajak naik dan turun. Namun, tidak semua wisatawan pergi ke puncak kawah dengan berjalan ada juga yang pergi kepuncak menggunakan tumpangan kuda yang sudah ada dari Pura Luhur Poten.
              Sesudah kami mendaki bukit yang begitu luas sesampailah kami pada anak tangga yang mrupakan jalan terakhir menunju ke puncak kawah Gunung Bromo. Banyak sekali anak tangga yang tak terhitung jumlahnya. Tangga dibuat menyusuri sisi sisi badan gunung yang mengepulkan udara. Terlihat dari jepretan foto anggota keluarga menulis seperti gambar badai kabut di padang pasir. Kami pun mulai menyusuri anak tangga tersebut. Satu persatu anggota keluarga penulis mulai merasa kelelahan karna banyak sekali anak tangga. Setelah berjalan denngan rasa lelah akhirnya hal itu dapat dibayar oleh pemandangan pegunungan , padang pasir serta pura yang terlihat dari puncak kawah Gunung Bromo.
              Jalanan yang begitu sempit di samping tebing yang curam serta banyaknya pengunjung membuat kami harus berhati hati mengingat anggota keluarga penulis masih ada yang anak anak. Kami pun menyempatkan foto di puncak gunung. Statusnya yang masih aktif membuat Gunung Bromo jadi lebih menarik di mata wisatawan. Ketinggian Gunung Bromo 2.392 meter diatas permukaan laut dan memiliki bentuk tubuh bertautan diantara lembah dan ngarai dengan di kelilingi kaldera atau lautan pasir luas kurang lebih sekitar 5.300 hektar.
                .Pada puncak kawah Gunung Bromo dapat melihat kawah Bromo dengan jarak yang begitu dekat. Banyak pemandangan menarik lainnya, seperti padang pasir yang mengelilingi Gunung Bromo, Gunung Semeru, Gunung Batok, dan keindahan alam lainnya. Setiap harinya, kawah Gunung Bromo selalu ramai dipadati pengunjung.
              Setelah merasa puas dengan keindahan di pucak Gunung Bromo kami turun dari dan meyusuri kembali puluhan anak tangga. Suasana ramai dan panas membuat kami harus berhati hati dan menjaga diri mengingat masih ada spot wisata lagi. Setelah menyusuri anak tangga kami beristirahat di jalanan pasir puncak bagian kedua. Air botol menjadi sasaran utama untuk diminum karna perjalanan kepuncak memang mebuat haus. Saat itu pula ada kakak yang menawarkan pada kami untuk mengisi pertanyaan berkaitan tentang wisata ramah muslim di Gunung Bromo. Tema yang diangkatpun juga memiliki alasan yaitu untuk menambah nilai nilai wisata Gunung Bromo sehingga wisata ini bisa memiliki nilai positif bagi para wisatawan khusunya wisatawan yang beragama islam.
              Setelah mengisi pertanyaan kami pun melanjutkan perjalanan menuju jeep untuk berpindah ke area wisata lain. Sesaat sebelum kembali jeep kami membeli makanan kecil dan membeli oleh oleh baju yang bergambar keindahan Gunung Bromo. Pedagang menawarkan harga yang semakin murah apabila jika kami membeli lebih banyak. Akhirnya kami membeli baju sebanyak 6 buah yang harga totalnya yaitu Rp. 200.000 .  Baju yang kami beli yaitu ada 3 jenis yaitu  untuk anak anak yang berukuran M, remaja yang berukuran L, dan dewasa yang berukuran XL.
              Perjalanan kami mulai lagi setelah membeli baju. Kami tidak merasa tergesa gesa karna Pak Dharma tidak memberi batasan waktu kami untuk menggunakan jeep tetapi harus tepat waktu mengingat perjalanan pulang dimulai pukul 11 siang. Tidak disangka pada waktu it pula ada angin sepoi yang dingin membuat suasana menjadi dingin dan terasa tidak panas. Kami juga saling mengobrol dan bercanda untuk mengurai rasa lelah kami dari menaiki puncak Gunung Bromo. Sesudah dari perjalanan yang cukup lama akhirnya kami kembali ke mobil jeep dan Pak Dharma terlihat siap disana.

E.         Pasir Berbisik
              Setelah kami masuk dan bersiap di jeep kami berangkat ke area wisata selanjutnya yaitu ke Pasir Berbisik. Salah satu wisata yang hanya bisa ditemui di kawasan wisata Gunung Bromo. Selama perjalanan hanyalah terlihat hamparan pasir hitam yang menyelimuti perjalanan kami. Dari letusan Gunung Bromolah yang membuat jalanan terbuat dari luapan erupsi kawah Gunung Bromo.
              Roda mobil jeep berputar dengan cepat dan suara mesin yang khas membuat perjalanan menjadi lebih seru. Jalanan yang begitu terhampar dan berdebu saat jeep yang kami gunakan melalui jalan pasir. Banyak ditemui diperjalanan cekungan atau bisa disebut sungai kecil yang mengakibatkan wisatawan harus berhati hati karna kalau tidak kepala bisa terbentur. hal itu sama dengan kami karna sudah sering terjadi karena tidak berhati hati untuk melindungi kepalanya dengan tangan. Kami pun melihat seorang pengemudi motor yang terjatuh di cekungan tersebut karna cekungan tersebut sangat curam untuk dilalui.
              Waktu yang lama akhirnya terhenti setelah kami sampai pada tempat tujuan. Terlihat sebuah hamparan yang sangat luas datar dan dikelilingi oleh bukit bukit. Mobil jeep banyak terparkir disana dan para sopir pun duduk manis menunggu wisatawan yang sedang asyik menikmata panorama alam yang begitu luar biasa. Kemudian kami keluar dari jeep dan bersempatkan diri untuk berfoto dengan latar belakang jeep warna putih Pak Dharma.
                Setelah kami selesai berfoto kami pergi ke pinggir jalan untuk menikmati pemandangan yang ada. Terlihat Gunung Bromo yang masih meluapkan asap dari kawahnya. Kami juga tidak lupa untuk mengisi perut kami dengan bekal yang sudah kami bawa mengingat di Wisata Bromo jarang sekali ada penjual khusunya di daerah tanah pasir hasil erupsi Gunung Bromo. Di sini juga teasa dingin karena dari tadi banyak sekali angin sepoi yang menghamiri kami ditambah awan yang menutupi matahari.
               Di Padang Berbisik tidak ada satu rumah pun yang terlihat karna mungkin wilayah ini begitu tandus dan kering. Berdasarkan pengamatan disini terlihat seperti daratan tandus dan mungkin wajar saja jika tidak ada rumah pemukiman. Penamaan wilayah berbisik didapatkan dari peristiwa pembuatan film oleh anak bangsa yang disutradarai tokoh terkenal yaitu Garin Nugroho yang dimana  pada waktu dulu apabila wilayah ini sedang diguyur musim kemarau dan terkena tiupan angin maka pasir akan serasa berbisik sesuatu.
                 Karna mungkin waktu yang kurang tepat penulis tidak menemukan hal serupa. Dari dulu memang wilayah ini jarang dikunjungi karna ketidak adanya fasilitas jalan yang cukup untuk dilewati sehingga menikmati Pasir Berbisik pada waktu dulu dengan sekarang berbeda. Sekarang lokasi wisata ini digunakan sebagai jalan yang lalu lalang untuk kendaraan mobil jeep maupun kendaraan lainnya.              
                 Selepas selesai makan kami mengambil foto bersama dengan latar belakang hamparan pasir. Beberapa foto yang berkesan ini kami abadikan sebagai foto keluarga. Sesudah itu kami menyempatkan untuk berjalan dan berlarian di hamparan yang luas ini. tempat yang terbuat dari pasir dirasa aman dan nyaman karna apabila terjatuh tidak mendapatkan goresan luka yang dalam. 
                 Di sisi lain, tempat sepi yang kami gunakan untuk duduk sudah mulai dipadati pengunjung atau wisatawan yang lain. Wajah mereka terlihat sangat gembira menandakan bahwa mereka baru pertama kali pergi ke kawasan wisata ini. Handphone merupakan andalan wisatawan untuk menuai foto yang indah. Namun bagi penulis dan anggota keluarganya lebih menggunakan kamera untuk mengabadikan kenangan yang ada.
                 Setelah beberapa lama , kami berlepas kembali ke mobil jeep untuk melanjutkan petualangan kami ke destinasi terakhir dan paling indah yaitu ke Bukit Teletubbies. Pak Dharma sudah bersiap disana. Akhirnya roda jeep mulai menggilas jalanan pasir yang ada.
F.         Bukit Teletubbies
              Terasa panas mulai dirasakan oleh kami, tetapi hal itu tidak menyurutkan tekad untuk mengunjungi sebuah tempat yang indah. Sempat diguncang oleh jalanan yang terjal dan berbatu membuat rasa hati hati dan waspada meningkat mengingat pesert alin yang terbentur kepalanya dengan keras. Perjalanan juga masih melewati padang pasir yang begitu tandus. Banyak sekali batu dan kerikil yang berserakan serta indahnya bukit yang mengelilingi jalan yang kami lewati.
                  Setelah menunggu dengan waktu yang cukup lama tempat yang kami ingin tuju pun tiba. Pak Dharma mengarahkan kami untuk berfoto foto di kawasan wisata ini. Memang terlihat rerumputan yang hijau ditambah dengan angin yang sepoi membuat lokasi wisata ini jadi spot yang paling wajib dikunjungi. Kami segera keluar dan menjauh dari mobil jeep untuk mencari udara segara di hamparan hijau ini. Penulis juga mendapatkan informasi jika sepertinya masih ada spot Bukit Teletubbies yang berbeda, tetapi untuk menunjang waktu yang tidak lama akhirnya kami hanya memutuskan untuk mencari kawasan bukit yang dekat dari lokasi wisata sebelumnya.
                    Terlihat banyak sekali turis yang memegang camera dan handphone sembari menunjukkan jari ditangan. Disana cuacanya mendung dan udaranya sangat sejuk. Hal itu  membuat para wisatawan betah untuk berlama lama. Penulis juga tidak ketinggalan dengan wisatawan yang lain. Kamera mulai disiapkan untuk mengabadikan foto penulis di Bukit Teletubbies. Bibi dan adik penulis pun juga tidak mau ketinggalan dan membuat penulis harus berfoto bersama.

                  Bukit Teletubbies merupakan bukit paling hijau diantara yang lain. Bukit Telettubies memiliki tubuh yang hampir semuanya tertanam rerumputan hijau yang indah. Di kawasan wisata Gunung Bromo hanya Bukit Teletubbies yang memiliki daerah paling hijau dan merupakan spot wisata yang paling unik.  Karena mirip dengan bukit yang ada di film teletubbies masyarakat pun menamainya dengan nama Bukit Teletubbies. Di kawasan ini pembaca harus mengambil foto disini karena spot wisata ini sangat indah dan memanjakan wisatawan.
                 Di sisi yang lain, pemandangan di Teletubbies memang tidak diragukan lagi karena keindahannya yang begitu luar biasa. Bagi masyarakat Suku Tengger tempat ini adalah salah satu tempat wajib dikunjungi saat melakukan tour di Bromo. Banyak sekali lalulalang yang terjadi. Disini juga masih tidak terlihat sebuah pemukiman.
                Setelah selesai menikmati keindahan Bukit Teletubbies, kami bergegas untuk kemabali ke Home Stay mengingat perjalanan pulang kami yang dimulai sebelum jam 12 siang. Ditambah lagi bahwa penginapan yang kami gunakan hanya sampai jam 12 siang juga. Sebelum masuk Pak Dharma menawarkan hal yang sama dengan pikiran kami untuk segera kembali ke Home Stay dan tentunya kami akan menurutinya.
                 Pintu belakang besi jeep mulai ditutup menandakan bahwa kami harus kembali ke Home Stay. Jalur yang dilewati kami juga sama dengan jalur yang sama ketika pergi ke spot terakhir. Berarti jalur kebeberapa objek wisata adalah lurus dan 1 tujuan dimana setiap objek tujuan ada pemberhentiannya. Kami pun juga masih melewati pemandangan pura luhur poten dan kawah Gunung Bromo.
                Beberapa lama, perjalanan kami pun mulai kembali pada tanjakan yang miring, curam, dan berliku liku menandakan bahwa jeep kami sudah tidak ada lagi di kawasan padang pasir. Terlihat reumputan dan pohon yang menjulang di samping jalan yang beraspal mirng. Jalanan mulai berliku liku tetapi hal itu tidak membuat Pak Dharma khawatir karna dia adalah pengemudi jeep yang handal.
               Sebelum kepulangan kami ke Home Stay kami juga menyempatkan waktu nuntuk mengobrol bersama Pak Dharma mengenai kendaraan jeep yang ia gunakan. Dia berkata bahwa jeep yang dia gunakan merupakan jeep asal jepang sudah tua dan lama dipakai. Keunggulan jeep jepang yang Pak Dharma gunakan adalah apabila menggunkan gigi pertama maka secara otomatis berhenti apabila tidak digaskan kembali tanpa menggunakan rem sekaligus. Dia juga bercerita bahwa Suku Tengger adalah suku yang suka tolong menolong. Hal itu terlihat saat Pak Dharma yang sedang menyapa temannya di jalanan yang sempit. Mobil jeep yang mogok adalah salah satu masalah yang harus dihadapi para pengantar wisatawan karna satu satunya solusi tersebut harus diderek mnggunakan mobil jeep yang sama pula.
              Setelah lama berada di jeep kami akhirnya kami sampai ke Home Stay. Langsung saja penulis dan anggota keluarga mempersiapkan diri untuk pulang. Sampah sampah mulai dibersihkan mengingat ada wisatawan asing yang akan menginap di Home Stay ini. Antrian kamir mandi pun sesak karna semuanya ingin mandi sehabis aktifitas padat berwisata di Bromo. Setelalah semua selesai kami pun tidak lupa untuk berpamitan pada Bapak Putra. Kami segera masuk ke mobil dan segera pulang agar saat tiba di rumah tidak terlalu malam mengingat besok ada ujian di sekolah penulis.


















BAB IV
PENUTUP

A.       Kesimpulan
                  Dari kunjungan wisata ke Gunung Bromo, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal antara lain sebagai berikut :
1.      Wisata ke Bromo merupakan salah satu wisata unggul di Jawa Timur,indonesia
2.      Kita senantiasa harus bersykur kepada tuhan atas nikmat yang telah diberikan kepada kita.
3.      Setiap pengunjung yang ingin pergi ke Gunung Bromo harus memiliki persiapan yang matang dari keuangan, kendaraan maupun bekal makanan.
4.      Masyarakat di kawasan wisata Gunung Bromo mayoritas beragama hindhu yang berasal dari Kerajaan Majapahit
5.      Destinasi unggul yang dilewati penulis di Bromo yaitu desa budaya Wonokitri, Bukit Cinta, Pura Luhur Poten, Kawah Gunung Bromo, Pasir Berbisik, dan Bukit Teletubbies.
B.       Saran
                   a.   Objek wisata
1.      Musholla yang digunakan salat oleh para jemaah kurang rapi dan dan kurang luas untuk itu pembangunan tempat peribadatan harus dibangun dengan baik agar wisatawan yang ingin menjalankan kewajiban merasa puas dan senang dengan pelayanan yang ada.
2.      Tempat pengunjung di kawah Gunung Bromo sangat sempit dan jalanan masih belum dicor sehingga wisatawan harus ekstra berhati hati maka dari itu bagi pihak pengelola untuk segera memperbaiki sebagai wujud peningkatan pelayanan.
3.      Fasilitas yang tersedia di kawasan wisata Gunung Bromo sudah cukup layak maka dari itu perlu adanya penjagaan yang -dilakukan bersama antara pengunjung  maupun petugas pengelola kawasan wisata.

                   b.     Pembaca
1.      Bagi pembaca yang ingin berkunjung ke wisata Gunung Bromo menggunakan transportasi darat, harap melakukan persiapan pada kendaraan secara matang agar tidak mendapatkan hal yang tidak diinginkan mengingat jalan yang ditempuh sempit, curam, serta berliku liku.
2.      Persiapkan dana yang cukup. Untuk dana wisata ke Bromo menggunakan biaya setidaknya Rp 2.000.000 jika menginap di home stay  dan menyewa jeep untuk berpetualang. Tidak lupa pula bahwa sejumlah biaya tersebut digunakan maksimal untuk 6 orang . Jumlah uang tersebut juga termasuk untuk membeli bensin di perjalanan.
3.      Selain dana yang dipersiapkan , bekal makanan harus disiapkan pula oleh pembaca untuk meringankan beban biaya membeli makanan tambahan disana

DAFTAR PUSTAKA



Comments

Popular posts from this blog

4 Negara Aneh Dan Yang Jarang Banget Dibahas

Negara Yang Wilayahnya Berbentuk Unik Indonesia Masuk

4 Negara Dengan Kota Terbaik Idaman Traveller No 1 Tak Terduga